Kritikan Perilaku Menyimpang Vinicius Jr di Real Madrid. Vinicius Jr, pemain berusia 25 tahun yang dikenal dengan bakat luar biasa, kini menghadapi gelombang kritik terkait sikap dan responsnya di bawah tekanan. Quique Sanchez Flores menyatakan bahwa Vinicius “tidak mewakili nilai-nilai Real Madrid” dan “sangat jauh dari potensi yang seharusnya ia capai”. Kritik ini muncul di tengah musim yang penuh gejolak bagi klub, termasuk pergantian pelatih dan eliminasi dini di Copa del Rey. Meski Vinicius tetap menjadi aset penting dengan kontribusi gol dan assist, perilakunya seperti reaksi emosional saat diganti dan interaksi dengan wasit sering menjadi bahan perdebatan. MAKNA LAGU
Kritik dari Quique Sanchez Flores dan Pengamat Lain: Kritikan Perilaku Menyimpang Vinicius Jr di Real Madrid
Quique Sanchez Flores menyoroti bahwa sebagai megabintang, Vinicius seharusnya menunjukkan keteladanan konsisten di dalam dan luar lapangan. Ia setuju dengan kegelisahan suporter yang semakin terlihat, terutama saat Vinicius dicemooh di Bernabeu selama kemenangan besar atas Real Betis. Kritik ini mengacu pada momen-momen seperti pergantian kontroversial di El Clasico, di mana Vinicius bereaksi marah dan berteriak “Always me!” saat meninggalkan lapangan. Beberapa pengamat lain menilai sikap ini sebagai kurang dewasa, terutama dibandingkan pemain lain yang lebih tenang dalam menghadapi tekanan. Sanchez Flores menekankan bahwa tanggung jawab besar menuntut sikap yang selaras dengan tradisi klub, bukan hanya performa individu.
Dampak terhadap Hubungan dengan Suporter dan Tim: Kritikan Perilaku Menyimpang Vinicius Jr di Real Madrid
Hubungan Vinicius dengan suporter Real Madrid mencapai titik terendah belakangan ini. Cemoohan di Bernabeu bukan hal baru, tapi semakin sering terjadi setelah periode tanpa gol sejak Oktober dan reaksi emosionalnya di lapangan. Beberapa suporter merasa perilakunya terlalu egois, seperti saat ia mengganti foto profil media sosial tanpa jersey klub, yang memicu spekulasi ketidakpuasan. Di dalam tim, insiden dengan pelatih sebelumnya seperti Xabi Alonso menambah ketegangan, meski klub tetap mempertahankannya sebagai pemain fundamental. Namun, kritik ini juga menyoroti kontras dengan ekspektasi tinggi terhadapnya sebagai pemimpin serangan, di mana suporter mengharapkan kedewasaan lebih besar di tengah tekanan besar.
Konteks Lebih Luas dan Respons Vinicius
Di balik kritik perilaku, Vinicius sering menjadi korban rasisme berulang di Spanyol, seperti insiden nyanyian xenofobik dan lemparan pisang di laga Copa del Rey melawan Albacete pada 14 Januari 2026. Hal ini membuat beberapa pihak melihat kritik terhadap sikapnya sebagai bagian dari narasi yang lebih kompleks, di mana tekanan eksternal memengaruhi respons emosionalnya. Vinicius belum memberikan pernyataan langsung terkait kritik terbaru ini, tapi sejarahnya menunjukkan ia tetap teguh pada gaya bermain dan ekspresi diri. Klub terus mendukungnya secara publik, meski ada tuntutan perubahan untuk menjaga harmoni di dalam skuad dan dengan penggemar.
Kesimpulan
Kritikan terhadap perilaku Vinicius Jr menjadi pengingat bahwa bakat besar harus diimbangi dengan kedewasaan, terutama di klub sebesar Real Madrid yang punya standar tinggi. Meski performanya tetap krusial, sikap emosional dan reaksi di bawah tekanan telah membuat hubungannya dengan suporter renggang. Situasi ini menuntut introspeksi dari Vinicius untuk kembali selaras dengan nilai klub, sementara klub perlu menangani isu ini secara bijak agar tidak mengganggu performa tim secara keseluruhan. Apa pun hasilnya, Vinicius tetap menjadi figur sentral yang penuh kontroversi sekaligus potensi besar di sepak bola modern.
