Cara Real Madrid Bisa Mendapatkan Versi Terbaiknya. Musim 2025/26 Real Madrid dimulai dengan langkah mantap di bawah Xabi Alonso, tapi kini tim ini butuh dorongan ekstra. Setelah kemenangan dramatis 4-3 atas Olympiakos di Liga Champions Rabu malam—di mana Kylian Mbappé cetak empat gol—Madrid duduk di posisi kedua La Liga dengan 28 poin dari 13 laga. Namun, seri 2-2 lawan Elche dan kekalahan tipis dari Liverpool tunjukkan retak: pressing kurang intens, rotasi minim, dan ketergantungan pada individu. Alonso, yang habiskan 178 juta euro musim panas untuk Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen, tahu skuad ini punya potensi treble. Tapi untuk capai versi terbaik, butuh perubahan taktis dan manajemen yang tepat. INFO SLOT
Perbaiki Formasi untuk Maksimalkan Bintang: Cara Real Madrid Bisa Mendapatkan Versi Terbaiknya
Alonso warisi skuad superstar tapi tak seimbang di 4-3-3. Mbappé, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham overlap di serangan, bikin Bellingham stuck di hybrid role yang kurangi dampaknya. Solusi: switch ke 4-4-2 diamond. Ini beri Bellingham kebebasan sebagai nomor 10, Mbappé sentral sebagai false nine, dan Vinicius di sayap kanan dengan dukungan Federico Valverde. Di Club World Cup Juni lalu, eksperimen back-three dengan Aurelien Tchouameni sebagai bek tengah tunjukkan potensi: Madrid kalahkan Juventus 2-1 di 16 besar. Formasi ini tingkatkan spacing, kurangi overlap, dan biarkan wing-back seperti Alexander-Arnold dorong serangan. Hasil awal musim: pressing intens naik 20%, tapi tanpa adaptasi, Madrid bisa ulangi kegagalan 2024/25—runner-up di tiga kompetisi domestik.
Tingkatkan Rotasi dan Manajemen Cedera: Cara Real Madrid Bisa Mendapatkan Versi Terbaiknya
Skuad Madrid punya kedalaman, tapi Alonso jarang rotasi: Mbappé main 1.135 menit dari 13 laga, Valverde 90% waktu. Ini risiko burnout, terutama pasca-internasional di mana lima pemain kembali “seperti mayat hidup”. Cara terbaik: rotasi rutin, ganti Mbappé dan Vinicius di menit 70 untuk jaga energi pressing. Dani Ceballos, yang undervalued di era Carlo Ancelotti, bisa isi peran kreatif pas Luka Modric pergi—ia punya visi distribusi mirip Granit Xhaka di Leverkusen. Cedera Bellingham awal musim hampir rusak segalanya; kini, dengan Huijsen sebagai opsi bek lebar, Alonso bisa istirahat bek seperti Eder Militao. Di Leverkusen, rotasi Alonso bikin tim tak terkalahkan—Madrid butuh hal sama untuk hadapi jadwal Desember: Atletico, Villarreal, Barcelona, plus Bayern di UCL.
Bangun Kontrol atas Kekacauan
Alonso tak suka “chance” seperti musim lalu, di mana Madrid outscore lawan tapi tak dominan. Fokusnya: defending with the ball—ekstra pass untuk settle rest defence. Di enam laga awal La Liga, Madrid menang sempurna, tapi possession 58% tak efisien: xG 1,6 per laga, terendah di top-4. Pelajaran dari kekalahan Liverpool: tim lawan ragu keluar half karena pressing Madrid, tapi serangan lambat bikin peluang hilang. Solusi: latihan repetition untuk automatism, seperti di Leverkusen. Ini bikin serangan lebih kohesif, kurangi turnover yang biaya gol konyol. Alonso bilang, “Kami growing—bisa kompetitif konsisten.” Dengan Arda Guler dapat peran lebih besar, kreativitas tengah naik, dan Mbappé sebagai leader (13 gol musim ini), Madrid bisa kontrol chaos jadi kekuatan.
Kesimpulan
Untuk versi terbaik, Real Madrid butuh Alonso terapkan visi penuh: formasi diamond untuk balance, rotasi pintar cegah kelelahan, dan kontrol taktis ubah kekacauan jadi dominasi. Skuad ini lengkap—dari Mbappé finisher hingga Bellingham box crasher—tapi tanpa adaptasi, trofi UCL ke-16 atau La Liga bisa lolos lagi. Alonso, yang tahu tekanan Bernabeu dari masa pemainnya, punya fondasi: kemenangan awal dan dukungan Perez. Desember jadi ujian—kalahkan rival, dan Madrid kembali jadi monster. Versi terbaik bukan mimpi; ia proses yang Alonso kuasai. Hala Madrid—saatnya angkat trofi lagi.
