John Herdman Buka Suara ke ASEAN. John Herdman kembali menjadi sorotan setelah memberikan pernyataan terbuka yang cukup mengejutkan tentang sepak bola ASEAN beberapa hari lalu. Pelatih asal Kanada yang pernah menangani timnas pria dan wanita negaranya itu mengaku masih mengikuti perkembangan bola di kawasan Asia Tenggara dengan cukup intens. Ia menilai potensi wilayah ini sangat besar, tapi ada beberapa hal yang menurutnya masih menjadi penghambat utama agar tim-tim ASEAN bisa bersaing lebih tinggi di level Asia bahkan dunia. Pernyataan Herdman ini langsung ramai diperbincangkan karena datang dari sosok yang punya rekam jejak sukses membangun timnas dari level menengah ke level kompetitif. Banyak pihak di ASEAN melihat ucapannya sebagai kritik konstruktif, sementara sebagian lain merasa ini bisa jadi motivasi tambahan bagi federasi dan pemain lokal. Di tengah persiapan berbagai timnas ASEAN menuju turnamen regional dan kualifikasi Piala Dunia berikutnya, suara Herdman terasa relevan dan tepat waktu. BERITA TERKINI
Potensi Besar tapi Masih Terhambat Struktur: John Herdman Buka Suara ke ASEAN
Herdman menekankan bahwa talenta individu di ASEAN sebenarnya tidak kalah dengan pemain dari negara-negara Asia Timur atau Timur Tengah. Ia menyebut ada banyak pemain muda yang punya kecepatan, teknik dasar bagus, dan insting bermain yang tinggi, tapi sayangnya potensi itu sering kali tidak berkembang maksimal karena kurangnya struktur kompetisi yang konsisten. Menurutnya, liga domestik di beberapa negara ASEAN masih terlalu fluktuatif—jadwal tidak teratur, fasilitas latihan yang minim, dan manajemen klub yang kadang lebih mementingkan hasil jangka pendek daripada pembinaan jangka panjang. Herdman juga menyoroti masalah transisi dari timnas U-23 ke timnas senior yang sering putus, sehingga banyak pemain bagus hilang momentum setelah usia 23 tahun. Ia membandingkan dengan pengalamannya di Kanada, di mana fokus pada pembinaan usia dini dan jalur yang jelas dari akademi hingga timnas senior membuat pemain bisa berkembang tanpa terputus. Pernyataan ini langsung memicu diskusi di kalangan pengamat bola ASEAN, karena banyak yang setuju bahwa tanpa perbaikan struktur, talenta muda akan terus “bocor” atau stuck di level domestik.
Kritik terhadap Mentalitas dan Infrastruktur: John Herdman Buka Suara ke ASEAN
Salah satu poin paling tajam dari Herdman adalah soal mentalitas pemain dan pelatih di ASEAN. Ia mengatakan bahwa terlalu banyak tim yang masih bermain aman dan defensif karena takut kalah, padahal untuk maju ke level lebih tinggi dibutuhkan keberanian mengambil risiko dan bermain menyerang. Menurutnya, mental “jangan sampai kebobolan dulu” masih terlalu dominan, sehingga tim sering kali kalah sebelum bertanding karena sudah kehilangan inisiatif. Herdman juga menyinggung infrastruktur yang belum merata—banyak negara punya stadion bagus di ibu kota, tapi di daerah masih minim lapangan layak, akademi berkualitas, dan program scouting yang sistematis. Ia mencontohkan bahwa negara-negara kecil di Eropa bisa bersaing karena punya sistem yang rapi dari akar rumput, sementara ASEAN sering kali bergantung pada bakat alami tanpa dukungan yang memadai. Pernyataan ini dianggap cukup pedas tapi realistis, karena Herdman sendiri pernah membawa timnas wanita Kanada meraih medali Olimpiade dan tim pria lolos ke Piala Dunia, sehingga kredibilitasnya sulit dibantah.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Herdman menutup pernyataannya dengan nada optimis, menyebut bahwa ASEAN punya peluang besar kalau federasi-federasi di kawasan ini mau melakukan reformasi serius. Ia menyarankan agar lebih fokus pada pembinaan usia dini, meningkatkan standar liga domestik, dan membangun jalur jelas dari timnas muda ke timnas senior. Ia juga menekankan pentingnya pelatih lokal yang berpengalaman serta kerjasama antar negara ASEAN untuk turnamen-turnamen regional yang lebih kompetitif. Banyak pengamat setuju bahwa pernyataan Herdman bisa menjadi cambuk bagi federasi-federasi di kawasan untuk tidak lagi puas dengan status quo. Namun tantangannya tetap besar: dana terbatas, politik sepak bola yang rumit, dan budaya yang masih mengutamakan hasil instan daripada pembinaan jangka panjang. Meski begitu, suara dari luar seperti Herdman dianggap penting karena bisa memberikan perspektif segar yang kadang sulit muncul dari dalam.
Kesimpulan
Pernyataan John Herdman tentang sepak bola ASEAN menjadi pengingat bahwa potensi besar di kawasan ini masih terhambat oleh masalah struktural, mentalitas, dan infrastruktur yang belum merata. Ia tidak sekadar mengkritik, tapi juga memberikan pandangan konstruktif dari pengalaman suksesnya membangun timnas di negara yang dulunya juga bukan kekuatan sepak bola dunia. Di tengah persiapan berbagai timnas ASEAN menghadapi agenda internasional mendatang, ucapan Herdman bisa menjadi bahan evaluasi bagi federasi dan pelatih lokal. Kalau ada kemauan untuk berubah serius, talenta yang melimpah di kawasan ini sebenarnya punya peluang nyata untuk bersaing lebih tinggi. Namun kalau tetap bertahan di zona nyaman, “masalah masa depan” yang Herdman singgung akan terus menjadi kenyataan. Yang jelas, suara seperti ini sebaiknya tidak diabaikan begitu saja.
